![]() | ||||||
| Teh Ica |
Pagi-pagi sekali, seperti biasa setelah salat Subuh, kemudian membangunkan anak-anak untuk mengajak anak-anak belajar menunaikan ibadah Salat Subuh (dengan harapan semoga kelak tambah besar ringan mengerjakan salat yang lima waktu).
“Ayo Teh Ica, Teh Pipi, dan Aisyah bangun…! Ayo bangun … bangun! Hayo Salat Subuh dulu sebentar! Tuh, Ayah bawa oleh-oleh. Bawa makanan disimpan di kulkas,” kataku sambil mengusap-usap kaki mereka agar bangun.
Mendengar kata oleh-oleh dan makanan, langsung saja mereka bereaksi.
“Hmm… ya … ya…. mana …?” jawab Teh Ica sambil menggeliat dan mengusap-ngusap matanya.
“Mana Mah, kuenya?” tanya Teh Aisyah dengan semangat sambil menyingkapkan selimutnya.
“Tuh ada di Kulkas, hayo sekarang salat saja dulu, baru dibuka oleh-oleh dari Ayah,” jawabku sambil merengkuh tangan mereka biar tidak kembali lagi tertidur.
Satu per satu mereka ke kamar mandi, untuk mengambil wudu. Saya siapkan sajadah dulu untuk mereka salat. Setelah selesai salat, biasa aku mesti rajin-rajin mengingatkan.
“Hayo rapikan lagi mukena dan sajadahnya. Simpan di tempat semula ya. Hayo-ayo biar ruangan tetap rapi,” kataku mengingatkan. Maklumlah tinggal di rumah sederhana jadi sejadahnya mesti dirapikan lagi karena ruangannya merangkap untuk ruang keluarga.
“Manah Mah, katanya Ayah bawa oleh-oleh?” kali ini Pipi bertanya sambil siap-siap menyalakan televisi. Biasa … menonton film favoritnya, film kartun.
Sambil berada di dapur sedang memanaskan air aku menjawab.
“Itu ada di kulkas, bagi-bagi ya jangan rebutan. Kasihan tuh si bungsu nanti dibagi,” jawabku mengingatkan karena memang si bungsu, Nadya, masih asyik dengan mimpinya di kasur.
“Hore asyik ada susu, eh botolnya bagus Teh, botolnya bagus,” girang Pipi setengah berteriak sambil memberi tahu Tet Ica dan Aisyah yang dari tadi asyik memperhatikan si film dengan tokohnya yang berwarna kuning itu.
“Mana-mana...,” sela Teh Ica dan Aisyah yang kemudian menyerbu ke arah kulkas.
“Eh ya, botolnya bagus, ada kepala macannya,” seru Aisyah.
Sudah deh … mereka asyik menikmati oleh-oleh kue yang dibeli oleh Ayahnya anak-anak. Sambil menikmati susu Milkuat. Wah, pas sepertinya botol-botol susu itu digenggam anak-anak.
Sambil memandangi mereka melalui Jendela pemisah antara ruangan dapur dan ruangan keluarga. Senang rasanya melihat mereka menikmati susu dan kue yang ada. Sepertinya enak ya. Lalu saya Tanya.
“Enak enggak?” tanyaku masih sambil asyik di dapur.
“Hemm… Enak Mah, susunya,” jawab Aisyah sambil menyeruput susunya.
“Ada yang susu putih gak, Mah,” tiba-tiba si bungsu, Nadya, sudah berada di belakang Teteh-Tetehnya yang sedang khusyuk menyaksikan acara televisi.
“Wah, Ayah belinya yang warna cokelat. Nanti ya kalau Ayah beli lagi pesen susu Milkuat yang putih,” jawabku sambil mengusap-usap kepala si bungsu yang rambutnya masih acak-acakan bangun dari kasurnya. (Sambil berpikir memang ada gak ya, susu Milkuat yang putih, bukan cokelat). Sambil membatin aku berpikir, mungkin kalau susu Milkuat banyak rasa, anak-anak pasti senang. Soalnya, anak-anak kadang sukanya masing-masing ada yang putih, ada yang senang rasa cokelat, juga ada yang suka rasa stroberi. Ya contohnya anak-anakku ini, walaupun satu pabrik (maaf satu ibu maksudku), tapi sukanya beda-beda. Soalnya anak-anak juga suka bentuk susu Milkuat, tinggal rasanya deh divariasi. Itulah suasana pagi di rumahku yang sungguh hangat dipenuhi empat bidadari kecilku. Oh ya maaf numpang cerita ini di blog suamiku. (Nitip ya, Yah). Sambil bercerita sedikit tentang anak-anak dari Suamiku tercinta (I love you, Yah).
Rasanya aku memang sepantasnya bersyukur, ya, sebagai istri dan juga seorang ibu, dikaruniai empat bidadari kecil yang cantik dan lucu-lucu (Cantikkan mereka … kayak siapa hayo ….? Nanti saya tampilkan foto-fotonya). Di usia yang ke-34 tahun, Allah Maha Pengasih telah mengaruniai kami bidadari yang usianya berturut-turut, putri yang pertama biasa dipanggil Ica, usianya sekarang 11 tahun. Dulu, Ica kecil usia satu tahun lahirlah adiknya, dipanggil Pipi. Kini, Pipi duduk di kelas IV sekolah dasar.
Begitu juga saat Ica usia dua tahun dan Pipi usia satu tahun, disusul lahir bidadari berikutnya. Putri ketiga ini biasa dipanggil Aisyah. Sekarang Aisyah kelas III sekolah dasar. Jadi, putri pertama, kedua, dan ketiga mereka terpaut satu tahun.
Alhamdulillah, Allah masih memberi amanat pada keluarga kami, satu lagi seorang putri, kali ini jaraknya dengan Teh Aisyah (kami biasa mengajarkan pada anak-anak kami memanggil kakaknya, dengan panggilan Teteh di depan namanya) terpaut dua tahun. Insya Allah ini si bungsu (moga Allah merestui). Si bungsu ini kami beri nama Nadya Alya, panggil saja Nadya (panggilan kesukaan si bungsu). Nadya ini sekarang sudah kelas satu sekolah dasar. Empat bidadari kecil kami bersekolah di sekolah dasar yang sama.
Sekian dulu ah sekelumit pagi dengan keluargaku … mudah-mudahan nanti bisa disambung lagi.






