Monday, December 26, 2011

Kesetiaan Mbah Maridjan untuk Merapi


“JIKA Merapi meletus dan aku mati, aku akan menerimanya dengan sepenuh hati dan jiwa saya. Saya tidak takut mati demi tanggung jawab.”
Demikian kalimat yang terkenal diucapkan Raden Ngabehi Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Mari­djan, beberapa tahun sebelum kematiannya pada 26 Oktober 2010 atau setahun silam.

Nama Mbah Maridjan memang tidak bisa dilepaskan dari Gunung Merapi yang berada di Sleman Yogyakarta. Mbah Maridjan yang lahir pada 5 Februari 1927 memulai pengabdiannya kepada Merapi dengan menjadi wakil juru kunci Gunung Merapi pada 1970.
Selanjutnya sejak 1980, pria yang mempunyai nama asli Mas Penewu Surakso Hargo ini naik pangkat menjadi juru kunci Gunung Merapi menggantikan ayahnya, Hartoredjo. Amanat tersebut dia terima langsung dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Setelah mengabdi selama 40 tahun dengan penuh dedikasi, akhirnya Mbah Maridjan pun mengembuskan napasnya yang terakhir di kediamannya di Dusun Kinahrejo, Cangkringan Sleman pada Selasa (26/10/10). Dia ditemukan tewas dengan posisi bersujud layaknya seorang yang tengah salat di salah satu ruangan. Mbah Maridjan tewas setelah desa tempat tinggalnya luluh-lantak diterjang abu panas Merapi yang diperkirakan mencapai 600 derajat Celsius.
Sejak kecil, Mbah Maridjan memang sudah akrab dengan Merapi atau dia sebut Eyang Merapi. Maklum, ayahnya pun merupakan juru kunci Merapi, sebuah profesi sekaligus pengabdian yang dijalani mereka secara turun-temurun. Nama Mbah Maridjan sendiri mulai dikenal publik saat ‘wedus gombel’ memberikan tanda-tanda akan datang pada 2006 lalu. Bahkan saking terkenalnya, Mbah Maridjan dijadikan bintang iklan sebuah produk minuman energi. Mbah Maridjan menjadi terkenal karena keengganannya meninggalkan Gunung Merapi kendati pemerintah sudah menetapkan gunung paling aktif di Indonesia tersebut dengan status ‘Awas’.
Namun tidak seperti tahun 2006 saat dia berhasil selamat, pada letusan 2010 Mbah Maridjan tak bisa lolos dari maut. Saat itu, Mbah Maridjan bergeming, tak mau beranjak dari kaki Gunung Merapi. Menurutnya, menjaga Merapi merupakan tugas mulia yang telah diamanatkan Sri Sultan kepadanya. “Ini adalah tugas mulia. Tidak ada alasan bagi saya untuk lari dari tanggung jawab. Jika saya meninggalkan pekerjaan ini, saya mengkhianatinya (Sri Sultan),” ucap Mbah Maridjan kala itu.
Sebagai abdi dalem keraton, Mbah Maridjan memang sangat memegang teguh amanat yang dibebankan kepadanya. Padahal untuk melakukan tugas berat tersebut, Mbah Maridjan tidak mendapatkan upah sepadan. Setiap bulannya, dia hanya menerima Rp3.000. Jumlah tersebut masih lebih besar dibanding gajinya saat awal menjadi juru kunci yang hanya Rp150 per bulan. Sebagai tambahan, Mbah Maridjan hanya mengandalkan pemberian atau tips alakadarnya dari orang yang ingin ‘berkomunikasi’ dengan Merapi.
Namun Mbah Maridjan tidak mempermasalahkan kecilnya upah dari keringatnya itu. Bagi dia, pengabdian kepada Sri Sultan jauh lebih bermakna. Di mata Mbah Maridjan, Gunung Merapi bukan sekadar gunung biasa. Seperti sebagian besar orang Jawa, Merapi mempunyai tempat khusus dalam kehidupan Mbah Maridjan. Merapi adalah tempat suci yang merupakan bagian dari tripartit budaya Jawa, selain Kraton dan Laut Selatan. Keengganannya meninggalkan Merapi, bukan untuk menentang pemerintah, tapi justru dia sangat memegang teguh perintah yakni menjaga Merapi seperti arti namanya, Surakso Hargo yang berarti penjaga gunung.
Saat Merapi meletus pada 2006 lalu, Mbah Maridjan juga tidak memedulikan imbauan pemerintah untuk mengungsi. Bahkan, saat rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyempatkan bermalam bersama para pengungsi, Mbah Maridjan malah naik mendekati kawah Merapi. Kehadiran Mbah Maridjan memberikan motivasi bagaimana sebuah keberanian diperlukan untuk melawan kekuatan yang tidak sesuai dengan apa yang diyakininya. Sikap Mbah Maridjan menjadi inspirasi banyak orang banyak untuk bisa membedakan penggunaan kekuasaan pada tempatnya.
Saat diperintahkan turun gunung, termasuk oleh Sri Sultan yang merupakan Raja Yogya, Mbah Maridjan tetap kukuh pada pendiriannya. Karena dia meyakini, saat itu kapasitas Sri Sultan bukan sebagai Raja Yogya, tapi Gubernur DI Yogyakarta. Dia tidak mengikuti imbauan tersebut karena mandatnya menjaga Merapi diperoleh dari raja, bukan gubernur. Dalam hal ini, Mbah Maridjan merasa sama sekali tidak membangkang. Karena baginya ketetapan untuk bertahan di lereng Merapi adalah untuk membantu tugas pemerintah menyelamatkan warga.
Sikap Mbah Maridjan yang setia kepada raja dan patuh pada profesi, itulah yang jarang ditemui di era modern ini. Mbah Maridjan telah memberikan contoh terbaik tentang bagaimana memegang komitmen dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas yang diembannya.(deni mulyana/berbagai sumber) HU INILAHKORAN

No comments:

Post a Comment