“JIKA Merapi meletus dan aku mati, aku akan menerimanya dengan
sepenuh hati dan jiwa saya. Saya tidak takut mati demi tanggung jawab.”
Demikian kalimat yang terkenal diucapkan Raden Ngabehi
Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan, beberapa tahun
sebelum kematiannya pada 26 Oktober 2010 atau setahun silam.
Nama Mbah Maridjan memang tidak bisa dilepaskan dari
Gunung Merapi yang berada di Sleman Yogyakarta. Mbah Maridjan yang lahir pada 5
Februari 1927 memulai pengabdiannya kepada Merapi dengan menjadi wakil juru
kunci Gunung Merapi pada 1970.
Selanjutnya sejak 1980, pria yang mempunyai nama asli Mas
Penewu Surakso Hargo ini naik pangkat menjadi juru kunci Gunung Merapi
menggantikan ayahnya, Hartoredjo. Amanat tersebut dia terima langsung dari Sri
Sultan Hamengkubuwono IX.
Setelah mengabdi selama 40 tahun
dengan penuh dedikasi, akhirnya Mbah
Maridjan
pun mengembuskan napasnya yang terakhir di kediamannya di
Dusun Kinahrejo,
Cangkringan Sleman pada Selasa (26/10/10). Dia ditemukan
tewas dengan posisi bersujud layaknya
seorang
yang tengah salat di salah satu ruangan. Mbah Maridjan tewas setelah desa
tempat tinggalnya
luluh-lantak diterjang abu panas Merapi yang diperkirakan mencapai 600 derajat Celsius.
Sejak kecil, Mbah Maridjan memang sudah
akrab dengan
Merapi atau dia sebut Eyang Merapi. Maklum, ayahnya pun merupakan juru
kunci Merapi,
sebuah profesi sekaligus pengabdian yang dijalani mereka secara
turun-temurun.
Nama Mbah Maridjan sendiri mulai dikenal publik saat ‘wedus gombel’
memberikan
tanda-tanda akan datang pada 2006 lalu. Bahkan saking terkenalnya, Mbah Maridjan
dijadikan bintang iklan sebuah produk minuman energi. Mbah Maridjan
menjadi
terkenal karena keengganannya meninggalkan Gunung Merapi kendati
pemerintah
sudah menetapkan gunung paling aktif di Indonesia tersebut dengan status ‘Awas’.
Namun tidak seperti tahun 2006 saat dia
berhasil selamat, pada letusan 2010 Mbah
Maridjan
tak bisa lolos dari maut. Saat itu, Mbah Maridjan bergeming, tak
mau beranjak
dari kaki Gunung Merapi. Menurutnya, menjaga Merapi merupakan tugas mulia
yang
telah diamanatkan Sri Sultan kepadanya. “Ini adalah tugas mulia. Tidak
ada alasan bagi
saya untuk lari dari tanggung jawab. Jika saya meninggalkan pekerjaan ini,
saya mengkhianatinya (Sri Sultan),” ucap Mbah Maridjan kala itu.
Sebagai abdi dalem keraton, Mbah Maridjan
memang
sangat memegang teguh amanat yang dibebankan kepadanya. Padahal untuk
melakukan
tugas berat tersebut, Mbah Maridjan tidak mendapatkan upah sepadan. Setiap bulannya, dia hanya menerima
Rp3.000. Jumlah
tersebut masih lebih besar dibanding gajinya saat awal menjadi juru
kunci yang hanya
Rp150 per bulan. Sebagai tambahan, Mbah Maridjan hanya mengandalkan
pemberian atau
tips alakadarnya dari orang yang ingin ‘berkomunikasi’ dengan Merapi.
Namun Mbah Maridjan tidak
mempermasalahkan kecilnya upah dari
keringatnya
itu. Bagi dia, pengabdian kepada Sri Sultan jauh lebih bermakna. Di mata Mbah
Maridjan,
Gunung Merapi bukan sekadar gunung biasa. Seperti sebagian besar orang
Jawa,
Merapi mempunyai tempat khusus dalam kehidupan Mbah Maridjan.
Merapi adalah
tempat suci yang merupakan bagian dari tripartit budaya Jawa, selain
Kraton dan Laut
Selatan. Keengganannya
meninggalkan
Merapi, bukan untuk menentang pemerintah, tapi justru dia
sangat memegang
teguh perintah yakni menjaga Merapi seperti arti namanya, Surakso Hargo
yang berarti
penjaga gunung.
Saat Merapi meletus pada 2006 lalu, Mbah
Maridjan juga tidak memedulikan
imbauan
pemerintah untuk mengungsi. Bahkan, saat rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyempatkan bermalam bersama para pengungsi, Mbah Maridjan malah naik mendekati kawah Merapi. Kehadiran Mbah
Maridjan
memberikan motivasi bagaimana sebuah keberanian diperlukan untuk melawan
kekuatan
yang tidak sesuai dengan apa yang diyakininya. Sikap Mbah Maridjan
menjadi inspirasi
banyak orang banyak untuk bisa membedakan penggunaan kekuasaan pada
tempatnya.
Saat diperintahkan turun gunung,
termasuk oleh Sri Sultan yang merupakan
Raja Yogya,
Mbah Maridjan tetap kukuh pada pendiriannya. Karena dia meyakini,
saat itu
kapasitas Sri Sultan bukan sebagai Raja Yogya, tapi Gubernur DI Yogyakarta. Dia tidak mengikuti
imbauan tersebut
karena mandatnya menjaga Merapi diperoleh dari raja, bukan
gubernur.
Dalam hal ini, Mbah Maridjan merasa sama sekali tidak membangkang.
Karena baginya
ketetapan untuk bertahan di lereng Merapi adalah untuk membantu
tugas pemerintah
menyelamatkan warga.
Sikap Mbah Maridjan yang setia kepada raja dan patuh pada profesi, itulah yang jarang ditemui di era modern ini. Mbah Maridjan telah memberikan contoh terbaik tentang
bagaimana memegang komitmen dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas yang
diembannya.(deni mulyana/berbagai sumber)
HU INILAHKORAN

No comments:
Post a Comment