Wednesday, July 25, 2012

Gizi Buruk di Sekitar Kita

Usia produktif mendominasi jumlah penduduk Indonesia hingga 2030. Inilah masa emas demografi yang biasanya terjadi satu kali dalam usia sebuah bangsa. Tapi, alih-alih mendongkrak pertumbuhan ekonomi, bonus demografi bisa menjadi bumerang pada masa yang akan datang bila persoalan kurang gizi pada anak balita belum terselesaikan. Kasus gizi buruk di Indonesia berada di urutan lima besar dunia. Padahal anak-anak inilah yang kelak menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia.

8 juta atau 35 persen dari 23 juta balita Indonesia menderita gizi buruk kategori stunting, artinya hampir separuh balita memiliki badan lebih rendah daripada standar tinggi badan balita seumurnya.
Dari 23 juta balita itu, 900 ribu bayi atau sekitar 4,5 persen balita memiliki gizi buruk.
13-15 poin di bawah normal tingkat kecerdasan anak bergizi buruk saat mereka memasuki usia sekolah.
10.000 angka kematian ibu di Indonesia saat melahirkan.
150.000 balita Indonesia meninggal setiap tahun.

5.000-10.000 kelahiran balita di Indonesia per tahun mengalami gangguan pendengaran akibat rendahnya pengetahuan ibu akan kebutuhan gizi. Kemampuan membaca dan matematika anak yang mengalami gangguan pendengaran lebih rendah 1-4 kelas dibanding anak berpendengaran normal. Imbasnya, tingkat kepandaian mereka mentok di kelas III-IV sekolah dasar.

50 persen Posyandu lenyap setelah otonomi daerah diberlakukan karena banyak pemerintah daerah tidak tertarik melanjutkannya. Padahal jumlah Posyandu sebelum ada otonomi daerah sekitar 230.000.

Rp8,5 miliar devisa bisa dihemat dari pembelian susu formula bila semua ibu di Indonesia menyusui anaknya.
Rp700 miliar atau Rp2.500 per bulan per balita, dana yang dialokasikan untuk meredam persoalan gizi buruk ini.

Bandung, 25 Juli 2012
Dikutip dari Tempo 16-22 Juli 2012
Sumber: Komisi Nasional Gangguan Pendengaran dan Ketulian, Depkes, UNICEF

No comments:

Post a Comment